Sabtu, 03 Agustus 2013

Revitalisasi Potensi Gas Aceh

Oleh: Fauzi Husin
President Director PT Arun NGL.

ISU tentang akan berakhir kontrak penjualan LNG Arun ke Korea Selatan akan berakhir pada tahun 2014, wacana ini semakin hangat bergulir di kalangan publik. Berbagai analisa tentang berakhirnya operasional kilang LNG Arun sering juga direspons dengan perspektif, di mana fasilitas kilang bernilai Rp 6.3 triliun akan segera berubah menjadi besi tua bila tidak dipikirkan sekarang ini.

Spekulasi publik tentang berbagai kemungkinan yang akan terjadi muncul karena melihat kenyataan beberapa industri raksasa di Aceh seperti; pabrik pupuk AAF, kilang kertas KKA dan kilang Humpus Aromatic, dalam beberapa tahun belakangan kilang tersebut telah terhenti operasional, karena alasan tidak memiliki sumber bahan baku gas untuk berproduksi.

Memahami ‘Jamaah Punkiyyah’

Oleh: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad
peminat kajian Shamans dan Gnosiologi.
 
SECARA pribadi, saya tidak begitu mengenal bagaimana aliran Punk itu sendiri. Karena itu merupakan sejarah “orang sakit hati” di Eropa dan Amerika Serikat. Sejak awal, gerakan Punk ini tidak begitu popular, karena dia hanya berkutat pada musik semata. Namun, ketika isu ‘Jamaah Punkiyyah’ muncul di Aceh, tentu saja akan memerlukan penjelasan. Salah seorang kawan di pulau Jawa, pada tahun akhir 1990-an, pernah menceritakan bahwa dia pernah ikut aliran hitam. Aliran ini muncul di kalangan anak muda yang masih belasan tahun dan suka ngeband. Mereka awam orientasi hidup dan agresif terhadap kebebasan.

Yang menarik adalah setiap malam bulan purnama, beberapa anggotanya  melakukan ritual meminum darah merpati di atas gedung dan mempersembahkan kepada spirit yang mengendalikan tubuh mereka. Merpati yang diminum darahnya adalah dengan cara memelintir kepala, lalu meminum darahnya secara bergiliran. Ritual ini tentu saja tidak akan dilakukan oleh mereka yang masih baru mengenal atau menjadi anggota jamaah ini. Dalam studi antropologi, fenomena ini sangat lazim di Barat, di mana pemujaan terhadap spirit, adalah sebuah kewajaran dan kewajiban, untuk menunjukkan kesetiaan pada jaringan jamaahnya.

Asal-usul Ampon Chiek Samalanga

Oleh: Karya Faurizal Moechtar
Penulis adalah pemerhati budaya

Pada zaman Pemerintahan Sultan Iskandar Muda, hiduplah seorang musafir yang tiba dari Bugis di Samalanga. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Tok Banda. Beliau adalah seorang yang baik hati, pemurah,  dan dermawan. Hari-hari Tok Banda bekerja sebagai petani di kawasan Kuta Blang Samalanga. Tok Banda menanam sayur-sayuran dan juga semangka. Jika ada orang yang meminta, Tok Banda akan memberikannya dengan satu syarat: Setiap peminta wajib mendoakan dengan bacaan, “Tok Banda beumeubahgia sampoe aneuk cuco (Tok Banda (semoga) berbahagia hingga anak cucu) .”

Wajah Pariwisata Aceh

Oleh: Meili Nuzuliana
Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

SAYA tertarik mengupas tentang kepariwisataan Aceh terutama pariwisata di Banda Aceh. Kilas balik, tahun ini Pemko Banda Aceh menggelar even besar. Kita tahu, Visit Banda Aceh Years (VBAY) 2011 atau tahun kunjungan wisata ke Banda Aceh. Festival Kopi Aceh akhir November lalu merupakan even terakhir dari rangkaian program VBAY 2011 (Serambi, 28/11/11).

Industri pariwisata di Banda Aceh sangat menjanjikan. Mulai dari begitu banyaknya objek wisata seperti peninggalan masa kerajaan Islam dan peninggalan musibah gempa tsunami 2004 silam. Selama 2011, arus wisatawan terlihat meningkat (Serambi, 12/05/11). Hampir setiap hari silih berganti wisatawan datang berkunjung ke Banda Aceh. Wisatawan berasal dari berbagai kalangan, baik lokal, nusantara dan mancanegara. Kita, dengan mudah menjumpainya di beberapa objek wisata, khususnya situs wisata tsunami.

Sekolah Berbasis Riset

Oleh: Andi Yusuf D
Mahasiswa Fakultas Kedokteran/Kedokteran Gigi, Unsyiah.

REKAM buram berbagai masalah yang mendera Indonesia harus dicari solusi yang bersifat jangka panjang. Problematika multidimensi yang menggelayuti bangsa secara perlahan membawa bangsa ini mengarah ke arus keterpurukan. Masalah seperti ekonomi, moral, politik, pendidikan, budaya, harkat dan martabat bangsa menjadi poin penting dalam pembangunan Indonesia. Membangun bangsa untuk mengatasi berbagai masalah tersebut tentu saja memerlukan sumber daya manusia sebagai agen subyek pembangunan Indonesia.

Solusi kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah bangsa yang terjadi selama ini di pemerintah jarang berdasarkan hasil kajian berupa penelitian dan pengembangan. Alhasil setiap kebijakan yang diambil bersifat reaktif dan solusi jangka pendek dan tidak memiliki daya untuk jangka panjang.

Zakat Penghasilan

Oleh: Al Yasa‘ Abubakar
Direktur Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

SEPERTI telah disebutkan dalam tulisan sebelumnya, para ulama cenderung memperluas harta kena zakat dari apa yang diamalkan pada masa Rasulullah SAW. Sehingga harta kena zakat semakin lama semakin banyak jenis dan macamnya. Tidak ada hadis sahih yang secara sharih menjelaskan adanya praktik pemungutan zakat atas harta perdagangan pada masa Rasulullah.

Imam Syafi‘i di dalam Kitab Al-Um mengutip riwayat bahwa ‘Umar memungut zakat atas barang yang dibawa ke pasar untuk dijual sebagai dalil pertama tentang adanya kewajiban zakat atas barang dagangan. Riwayat ini dapat memberi petunjuk bahwa Khalifah Umarlah orang pertama yang memungut zakat atas barang dagangan. Imam Syafi‘i dalam qawl qadim menyatakan ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang kewajiban zakat atas barang dagangan. Beliau sendiri tidak secara tegas menyatakan adanya kewajiban zakat barang perdagangan. Bahkan ada yang menyimpulkan bahwa Imam Syafi‘i cenderung tidak mewajibkan zakat atas barang perdagangan di dalam qawl qadim-nya. Sedang dalam qawl jadid, beliau menyatakan secara tegas bahwa barang dagangan wajib dizakati. Imam Malik menyatakan barang dagangan baru dikenakan zakat kalau sudah dijual, sudah bertukar menjadi uang.

Wisata Sejarah Aceh

Oleh: Azhar A Gani
Mahasiswa Program Doktor Manajemen Pariwisata-Universiti Utara Malaysia.

SATU lagi destinasi wisata warisan sejarah diresmikan pemerintah (Jumat, 09/12/2011). Destinasi tersebut diberi nama Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara. Berlokasi di Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh dan berjarak sekitar 180 km arah timur Ibukota Provinsi Aceh. Peresmian kawasan tersebut berkaitan dengan sejarah antara Indonesia dan Malaysia. Sosok itu bernama Tun Sri Lanang. Menurut sebuah kisah, sebelum memimpin Negeri Samalanga, Bireuen tahun 1615-1659, Tun Sri merupakan bendahara atau Perdana Menteri Kerajaan Johor. Namun, setelah Aceh menaklukkan Batu Sawar, Ibu kota Kerajaan Johor tahun 1613, Sultan Iskandar Muda memboyong Tun Sri ke daerah itu, kemudian diangkat sebagai penguasa pertama Samalanga (Kompas, 09/12/2011).