Faizal Adriansyah
Kabid Kajian Aparatur PKP2A IV LAN
DARI mana kita berasal sebelum kita hidup di permukaan bumi ini, apa
tugas kita setelah hadir di muka bumi ini dan ke mana kita akan pergi
setelah habis masa tinggal kita di bumi ini?
Ramadhan adalah
bulan yang sangat tepat untuk kita merenungkan kembali semua pertanyan
di atas dan mencoba menjawabnya untuk membangun kesadaran bahwa hidup
kita di dunia ini terbatas, ada saatnya kita lahir dan ada saatnya kita
akan mati. Rasulullah bersabda “Silahkan kamu berbuat apa pun yang kamu
suka, tapi ingatlah kamu pasti akan mati”.
Di bulan lain kita
semua hampir tidak punya waktu untuk merenung, berdialog dengan diri
kita sendiri dan mengevaluasi diri kita. Karena kita semua disibukkan
dengan persoalan duniawi kita. Ada yang habis waktunya menggarap sawah
dan ladang, karena mengharap panen yang besar, ada yang di laut nan
lepas berhari, berminggu, ada yang habis waktunya di kantor dengan
pekerjaan yang seakan tak pernah selesai, ada yang terus menerus di
lapangan meninggalkan keluarga berlama-lama dengan proyek-proyek besar,
ada yang habis waktunya di warung kopi dengan berbagai obrolan yang
tidak berujung pangkal, ada yang habis waktunya di depan komputer dengan
facebook, chating dan twitter dan ada pula yang habis waktunya dengan
luntang lantung tanpa tujuan di jalan, di taman, di pasar.
Namun,
insyaallah dengan panggilan Ramadhan ini kita semua tiba-tiba rindu
ketenangan, rindu kedamiaan, rindu berkumpul dengan keluarga, handai
taulan, rindu dengan jamaah dan puncaknya rindu perjumpaan dengan Sang
Khaliq. Kita ingin hidup dengan gema wahyu illahi dengan lantunan dzikir
subhannallah, wal hamdulilah, wa la ilaha ilallah, wallahu akbar. Nada
indah yang hampir jarang terdengar dari lisan kita di luar Ramadhan.
Kita sering mendengar di luar Ramadhan kata-kata kasar, caci maki,
kata-kata kotor, sumpah serapah. Bersama Ramadhan ucapan kita menjadi
santun, sejuk, bermakna dan menyambung silaturrahmi.
Di bulan
Ramadhan ini kita lebih peka dengan suara adzan. Kalau di luar Ramadhan
suara adzan hampir tak pernah terkesan, karena musik kesayangan yang
lebih tertanam dalam benak dan ingatan kita. Melalui Ramadhan ini
lantunan adzan menjadi nyanyian yang syahdu dan indah. Bibir kita akan
mudah tergetar untuk mengikuti panggilan muadzin. Adzan yang dihayati
menjadikan hati kita tentram bersama kebesaran dan keagungan Tuhan.
Allahu akbar-Allahu akbar.
Bulan Ramadhan memang bulan kepekaan,
tidak hanya peka dengan lantunan dzikir tetapi juga peka sosial yaitu
tumbuhnya kesadaran sosial dalam batin kita untuk peduli bukan saja pada
hal yang hanya berkaitan dengan aspek transendental dan ritual
keagamaan, tetapi juga peduli dengan aspek-aspek sosial kemanusiaan. Hal
ini terefleksi dalam bentuk keprihatinan terhadap kondisi sosial yang
terdapat dalam kehidupan keseharian, misalnya kepedulian terhadap
realitas sosial seperti hormat dan berbakti kepada orang tua, menyantuni
anak yatim dan orang-orang miskin, membela orang yang tertindas hak dan
martabatnya, keberanian melakukan kontrol sosial dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, ketaatan kepada pemimpin.
Inilah
bulan di mana kita bisa mengadu kepada Allah, betapa lelahnya kita
selama ini dengan berbagai hal yang tidak pasti, tetapi kita lupa dengan
sesuatu yang pasti yaitu perjumpaan dengan Nya. Kita berasal dari
Allah, karena Allah lah yang telah menciptakan kita, memuliakan kita,
meninggikan derajat kita dari mahluk lainnya. Kata Sayyidina Ali Bin Abi
Thalib “Saat seseorang sujud dalam shalatnya saharusnya menyadarkan ia
akan asal usulnya bahwa ia tercipta dari tanah. Ketika dia bangun dari
shalatnya mengingatkan bahwa kemuliaan yang ada pada dirinya saat ini
tidak lain karena kasih sayang Allah yang telah mengeluarkan tanah
tersebut menjadikannya manusia sebagai mahluk mulia. “Bukankah banyak
tanah yang Allah jadikan monyet, cacing, lembu dan lain sebagainya.
Tetapi tanah ini telah Allah pilih menjadi manusia “sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At Tin
ayat 4).
Allah mencipta manusia tentu dengan tujuan, bukanlah
sia-sia. Tujuan kehadiran manusia di muka bumi yang pertama adalah untuk
mengabdi kepada Allah sebagaimana firmannya “Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Jadi manusia
pertama diperintahkan untuk menjadi “Abdullah” yaitu hamba Allah yang
taat. Di samping sebagai “Abdullah” manusia juga adalah “Khalifah” yang
bertugas membangun peradaban (QS. Al Baqarah ayat 29-30). Dengan
demikian manusia berbeda dengan mahluk Allah yang lainnya, karena
manusia memiliki peran ganda yaitu sebagai “Abdullah” dan sekaligus
“Khalifatullah”.
Akhir perjalanan hidup kita di dunia adalah
kematian, namun kematian bukanlah akhir segalanya, tapi kematian adalah
awal semua pertanggungjawaban manusia terhadap sepak terjangnya di muka
bumi. Inilah yang diingatkan oleh Rasulullah “kamu dapat berbuat apa
saja sesuka hatimu tapi kamu pasti akan mati”. Persiapan untuk kematian
adalah memperbanyak amal kebajikan karena sesuai firman Allah dalam
surah Al-Qaari’ah bahwa amal kita akan ditimbang, siapa yang berat amal
kebaikannya selamatlah ia, namun sebaliknya celakalah bagi mereka yang
ringan amal kebaikan alias lebih berat dosa dan maksiat. “Dan adapun
orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka dia berada dalam
kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan
(kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah” (QS. Al
Qaari’ah ayat 6-9).
Manusia sesungguhnya tercipta sebagai mahluk
yang fitrah dan suci, bentuk kesucian manusia terlihat dari penyebutan
hati (qalbu) dengan istilah nurani yang berasal dari kata ‘nuur’ artinya
cahaya. Dengan demikian ketika kita menyebut ‘hati nurani’ terkandung
maksud bahwa hati kita itu memiliki kemampuan untuk ‘mencahayai’ atau
‘menerangi’ jalan hidup kita. Itulah sebabnya Rasulullah saw. ketika
ditanya sahabat Wabisah al Ashadi tentang cara membedakan mana perbuatan
yang baik dan mana perbuatan buruk, beliau menjawab, “tanyalah kepada
hatimu!”. Namun manusia juga mahluk yang lemah sebagaimana dalam surah
An Nisa ayat 4". Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” Kelemahan
manusia di sini adalah kelemahan jiwa, di mana manusia mudah tergoda
untuk berbuat dosa sehingga mengotori kesucian jiwanya. Kelemahan inilah
yang membuat manusia keluar dari kesuciaan dan kemuliaanya. Dalam
kondisi jiwa yang kotor penuh dosa maka derajat manusia jatuh bahkan
lebih rendah dari binatang sebagaimana firman Allah dalam surah Al Araf
ayat 179 “mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi”
Terhadap
manusia yang “terpeleset” jatuh dalam dosa dan kehinaan, Allah dengan
sifat Rahman dan Rahim Nya selalu memberi kesempatan dan memberi banyak
sekali fasilitas untuk membersihkan diri dan keluar dari dosa. Di
antaranya dengan istighfar, shalat lima waktu, shalat Jumat ke Jumat.
Dan yang paling istimewa adalah Ramadhan sebagaimana sabda Rasulullah
saw “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan
perhitungan, maka akan diampuni segala dosanya di masa lalu dan di masa
yang akan datang.” (H.R. Ahmad).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar