Jumat, 02 Agustus 2013

Setia Cegah AIDS

Oleh Khuzaimah
Widyaswara Madya BKKBN Provinsi Aceh.
 
MESKI sudah berkurang intensitasnya, nampaknya pesta akad dan nikah dalam bulan haji ini akan terus berlanjut hingga bulan-bulan selanjutnya. Para pasangan dara baro dan linto pun masih dimabuk asmara. Mungkin sebagian di antaranya juga sedang bahagia dengan budaya bulan madu yang diterapkan secara personal.

Sebagai seorang ibu, tentulah bahagia bukan kepalang menyaksikan penyatuan dua jiwa ini yang sudah sah di mata agama begitu juga adat dan negara. Masih sebagai orang tua, khususnya sebagai ibu, bukan pula pernikahan sang anak lantas bermaksud mencukupkan tanggung jawab pengawasannya terhadap anak-anak yang sudah menikah tadi. Dengan menikah yang berarti membuka lembar baru, maka hal itu juga berarti si anak yang menikah akan mendapati berbagai persoalan baru yang senantiasa butuh dukungan orang tua. Peliknya tiadalah yang tahu kecuali Allah SWT seorang, masalah apa yang akan dihadapi. Yang pasti, kita dituntut mampu merencanakan penataan keluarga yang baik sehingga sebagai mana tujuan pernikahan, insyaAllah dua insan itu akan mampu memproduksi anak-anak yang shaleh dan shaleha.

Malpraktik Insinyur

Oleh Faizal Adriansyah
Kabid Kajian Aparatur PKP2A IV LAN-RI.
 
RUNTUHNYA Jembatan Kutai Kartanegara (Golden Gate Kalimantan) merupakan peristiwa langka di dunia konstruksi. Kemungkinan adanya malpraktik profesi insinyur pada kasus ambruknya jembatan Kutai Kartanegara pernah dilontarkan oleh Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Dr. Ir. Muhammad Said Didu pada wawancara interaktif dengan RRI Pro 3 Senin 28 November 2011.

Said Didu juga menambahkan salah satu kendala sukarnya mencegah malpraktik insinyur dikarenakan di Indonesia sampai saat ini belum ada Undang-Undang Profesi Insinyur, sementara hampir seluruh Negara Asean telah memiliki undang-undang tersebut. Padahal RUU Profesi Insinyur, sebenarnya sudah diajukan oleh PII ke DPR sejak 2005, namun hingga kini belum mendapat pengesahan dari DPR. Undang-undang  keinsinyuran sangat penting agar insinyur dapat mempertanggungjawabkan keprofesiannya, jadi kalau terjadi kerusakan tidak hanya sekadar dianggap akibat alam semata, seperti kasus lumpur Lapindo, ledakan tabung gas dan berbagai kasus pembangunan infrastruktur lainnya yang bermasalah.

Jurus Berinvestasi ala Indatu

Oleh: Muharril Al Aqshar 
( Mahasiswa pascasarjana  Universitas Gajah Mada)

Di zaman yang serbasusah seperti saat ini  membutuhkan langkah-langkah yang  tepat untuk berinvestasi. Banyak  pelaku bisnis terpaksa gulung tikar lantaran  usaha yang dibangun tidak mendapat respons yang positif dari  konsumen. Memang dalam setiap investasi, pasti ada risiko pasar yang harus diterima oleh setiap pelaku bisnis. Namun, bukan berarti semua itu akan menyurutkan langkah kita di dalam berinvestasi.

Banyak cara berinvestasi yang aman bagi para pelaku bisnis yang tidak berani mengambil risiko. Seperti  yang telah dipraktekkan oleh para leluhur kita (indatu), yaitu melakukan  investasi dengan emas dan tanah. Sangat mernarik bila mencermati cara tersebut, karena selain risikonya kecil, keuntungan   yang diperoleh juga   sangat menjanjikan.

Investasi  emas
Naik turun (fluktuasi) harga emas akhir-akhir ini sangat meresahkan masyarakat, khususnya kalangan  pemuda yang belum menikah. Betapa tidak,  mahar di dalam adat perkawinan di Aceh adalah emas. Sepertinya menjadi kurang ‘afdhal’  sebuah perkawinan jika tidak mengikutsertakan emas di dalamnya sebagai jeulamee.Menjadikan emas sebagai mahar di dalam adat perkawinan oleh para leluhur kita sangat masuk akal, karena harga emas dari tahun   ke tahun  relatif stabil, bahkan selalu naik.

Kamis, 01 Agustus 2013

Patgulipat Wakaf Baitul Asyi

Oleh:
Hermansyah 
Staf pengajar Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry,  magister bidang filologi Islam di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Tidak banyak dari jamaah haji (hujjaj) Aceh yang mengetahui keberadaan Baitul Asyi  di Mekkah, tanah yang diwakafkan indatunya khusus untuk hujjaj dari Aceh. Warisan paling berharga yang diberikan para leluhur terdahulu sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap generasinya itu kini menjadi aset bisnis yang megah dan strategis di sekitar pelataran Masjidil Haram.

Salah satunya terletak di daerah Qusyasyiah bertepatan dengan bab al-Fath Masjidil Haram, seperti hotel Ajyad (Funduk Ajyad) bertingkat 25 dan Menara Ajyad (Burj Ajyad) bertingkat 28 yang berjarak  sekitar 500-600 meter dari Masjidil Haram. Kedua hotel tersebut mampu menampung lebih  dari 7.000 jamaah yang dilengkapi dengan infrastruktur lengkap. Wakaf tersebut semakin bertambah dengan pembelian beberapa aset lagi. Hasil sumbangan, sedekah, dan infak hujjaj Aceh diwakafkan dalam bentuk tanah dan rumah di seputar Masjidil Haram tersebut yang dikoordinir  oleh Habib Bugak sekitar tahun 1224 H/ 1809 M.

Sebagian berpendapat bahwa nama asli Habib Bugak adalah Habib Abdurrahman bin Alwi al-Habsyi dari Monklayu. Sebagian lagi menyebut ia berasal dari daerah Bugak di Aceh Timur, Bireuen atau Pidie. Sulitnya informasi tersebut diakibatkan tidak ada bukti tertulis  secara komprehensif. Melalui lembaran sarakata (surat Sultan) Aceh yang saya peroleh, tertera stempel kesultanan yang menunjukkan originalitasnya. Disebutkan bahwa ia bernama Sayyid ‘Abdurrahman bin ‘Alwi Peusangan, yang diberi kuasa pengelolaan tanah di wilayah Mutiara di sebelah barat Blang Pancang hingga Krueng Air sebelah timur dan hingga perbatasan Krueng Geukueh.

Bulan Kepekaan

 Faizal Adriansyah 
Kabid Kajian Aparatur PKP2A IV LAN

DARI mana kita berasal sebelum kita hidup di permukaan bumi ini, apa tugas kita setelah hadir di muka bumi ini dan ke mana kita akan pergi setelah habis masa tinggal kita di bumi ini?

Ramadhan adalah bulan yang sangat tepat untuk kita merenungkan kembali semua pertanyan di atas dan mencoba menjawabnya untuk membangun kesadaran bahwa hidup kita di dunia ini terbatas, ada saatnya kita lahir dan ada saatnya kita akan mati. Rasulullah bersabda “Silahkan kamu berbuat apa pun yang kamu suka, tapi ingatlah kamu pasti akan mati”.

Di bulan lain kita semua hampir tidak punya waktu untuk merenung, berdialog dengan diri kita sendiri dan mengevaluasi diri kita. Karena kita semua disibukkan dengan persoalan duniawi kita. Ada yang habis waktunya menggarap sawah dan ladang, karena mengharap panen yang besar, ada yang di laut nan lepas berhari, berminggu, ada yang habis waktunya di kantor dengan pekerjaan yang seakan tak pernah selesai, ada yang terus menerus di lapangan meninggalkan keluarga berlama-lama dengan proyek-proyek besar, ada yang habis waktunya di warung kopi dengan berbagai obrolan yang tidak berujung pangkal, ada yang habis waktunya di depan komputer dengan facebook, chating dan twitter dan ada pula yang habis waktunya dengan luntang lantung tanpa tujuan di jalan, di taman, di pasar.

Namun, insyaallah dengan panggilan Ramadhan ini kita semua tiba-tiba rindu ketenangan, rindu kedamiaan, rindu berkumpul dengan keluarga, handai taulan, rindu dengan jamaah dan puncaknya rindu perjumpaan dengan Sang Khaliq. Kita ingin hidup dengan gema wahyu illahi dengan lantunan dzikir subhannallah, wal hamdulilah, wa la ilaha ilallah, wallahu akbar. Nada indah yang hampir jarang terdengar dari lisan kita di luar Ramadhan. Kita sering mendengar di luar Ramadhan kata-kata kasar, caci maki, kata-kata kotor, sumpah serapah. Bersama Ramadhan ucapan kita menjadi santun, sejuk, bermakna dan menyambung silaturrahmi.

Senin, 20 Februari 2012

Ketika Kita Percaya?



Cedara loen nyang meutuah!
Dalam masa yang penuh rasa takut dewasa ini, kita di tuntun dan di bawa pada satu situasi dan kondisi melewati belantara pesimisme yang kian panjang, makin tinggi nya tingkat kompetisi yang menghalalkan segala cara, sementara kemampuan kita yng terbatas, makin mahal harga barang-barang, sementara kemampuan belanja tidak kian berubah, semua usaha kita lakukan, berdoapun tidak ketinggalan, tapi semua usaha itu seolah hanya manjadi proses yang terabaikan dan seakan doapun tiada jawaban!

Cedara loen nyang meutuah!
Mari kita mencoba melihat fenomena melalui renungan sejenak dari sudut malam ini yang mampu mencemerlangkan harapan sehingga ketakutan menjadi keberanian, kelemahan menjadi kekuatan, usaha tercapai pada tujuan dan doa selalu termakbulkan, kerana keajaiban akan selalu hadir dalam ruang-ruang kepercayaan.
Terkadang kita tidak sadar dan mengerti bahwa ternyata keajaiban hanya di butuhkan pada situasi dimana kita di belenggu oleh kesulitan, lalu semakin sulit situasi yang kita hadapi cendrung makin melahirkan keluhan dan tangisan, namun jika kita memahami dengan kepercayaan, bahwasanya semakin kita menderita maka kondisi ini merupakan suatu masa dimana kita semakin dekat dengan keajaiban!

Cedara loen nyang meutuah!
Sesungguhnya keajaiban merupakan subuah kejadian yang di lahirkan oleh ibu kesulitan dan di hasil dari ayah keupayaan, maka dari itu keupayaan merukan proses pengubah nasib, meski kita diantara kita sering meragukan akan hal demikian, tapi sebenar nya ketika berbicara kepercayaan maka tidak terlepas dari nilai-nilai, yaitu nilai ketuhanan, dan ketika kita berbicara ttg kepercayaan dan melibatkan nama tuhan di sana, maka tidak ada hal yang tidak mungkin!

Sabtu, 11 Februari 2012

Hidup Untuk Kebahagian!

Hidup Untuk Kebahagiaan

Hidup adalah usaha-usaha keras dalam meraih kebahagian, Sesuatu yg paling indah dalam kehidupan ini adalah adalah kebahgian Hidup adalah keberadaan, hidup berbeda dengan ada, ada orang yang hidup hanya sekedar ada, dan setelah dia meninggal maka tiada lagi, tidak ada orang yg ingat, tidak ada bekas-bekas dari kehadiarannya di masa lalu. Tapi orang yang hidup adalah orang-orang yang mengisi kebahgiannya dengan hal-hal yang bernilai, semakin dia hidup semakin bernilai usianya, bukan orang nya yg tetap hidup lama tapi namanya tetap hidup beberapa generasi setelah dia tiada! 

Untuk hidup dalam kebahagian,sebetulnya sangat sederhana! kita yang sering mempersulit kabahagian kita, coba kita bertanya pada diri kita, apakah kita pribadi yg di senangkan atau malah sebaliknya cukup susah utk di senangkan oleh orang lain? Apakah orang harus membayar mahal utk nyenangkan kita? Apakah orang harus bersujud lantas dengan cara begitu kita akan mersa senang? Atau kita akan mereasa senang dengan melihat anak kecil dengan berjalan tertatih-tatih dengan lincah lalu berkata dengan belonya bahasa anak2? Jika kita orang yang mudah di senangkan, maka tdk heran cukup mudah kebahagian yg akan kita peroleh. 

Tapi apa bila anda berharap yang besar untuk di senangkan maka jelaslah bahwa kita menjadi pribadi yang sulit utk di bahagiakan…jadi jika kita bahagia, maka jadilah pribadi yg mudah berbahagia dan di bahgiakan dalam keadaan apapun! orang yang hidup selalu menghasil hal2 yg penting dan menghasil kan nilai yg mungkin tdk dapat di lakukan orang lain,,, Apa hal yg penting kt lakukan? Hal yg terbaik kita lakukan adalah setiap dari yg kita lakukan selalu melahir rasa senang di hati orang lain, jika segala sesuatu yg kita lakukan menimbulkan kesenangan di hati orang lain maka mari kita bangun kesenangan itu untuk kebahagian kita karena alasan kebahagian yang dibangun berdasarkan kebahgian yg telah kita berikan, karena kebaikan akan selalu melahirkan kebaikan yang berbalasan melebihi dari kebaikan yg pernah kita berikan ke orang lain! 

Sering kali kita sulit membangun kebahagian krn kita sulit percaya bhw kita bisa meraih kebahgian itu, lalu menjadikan contoh org yg menderita sebagai barometer dalam memandang kabahgian yg ingin kita raih,