Sabtu, 03 Agustus 2013

Sekolah Berbasis Riset

Oleh: Andi Yusuf D
Mahasiswa Fakultas Kedokteran/Kedokteran Gigi, Unsyiah.

REKAM buram berbagai masalah yang mendera Indonesia harus dicari solusi yang bersifat jangka panjang. Problematika multidimensi yang menggelayuti bangsa secara perlahan membawa bangsa ini mengarah ke arus keterpurukan. Masalah seperti ekonomi, moral, politik, pendidikan, budaya, harkat dan martabat bangsa menjadi poin penting dalam pembangunan Indonesia. Membangun bangsa untuk mengatasi berbagai masalah tersebut tentu saja memerlukan sumber daya manusia sebagai agen subyek pembangunan Indonesia.

Solusi kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah bangsa yang terjadi selama ini di pemerintah jarang berdasarkan hasil kajian berupa penelitian dan pengembangan. Alhasil setiap kebijakan yang diambil bersifat reaktif dan solusi jangka pendek dan tidak memiliki daya untuk jangka panjang.

Zakat Penghasilan

Oleh: Al Yasa‘ Abubakar
Direktur Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

SEPERTI telah disebutkan dalam tulisan sebelumnya, para ulama cenderung memperluas harta kena zakat dari apa yang diamalkan pada masa Rasulullah SAW. Sehingga harta kena zakat semakin lama semakin banyak jenis dan macamnya. Tidak ada hadis sahih yang secara sharih menjelaskan adanya praktik pemungutan zakat atas harta perdagangan pada masa Rasulullah.

Imam Syafi‘i di dalam Kitab Al-Um mengutip riwayat bahwa ‘Umar memungut zakat atas barang yang dibawa ke pasar untuk dijual sebagai dalil pertama tentang adanya kewajiban zakat atas barang dagangan. Riwayat ini dapat memberi petunjuk bahwa Khalifah Umarlah orang pertama yang memungut zakat atas barang dagangan. Imam Syafi‘i dalam qawl qadim menyatakan ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang kewajiban zakat atas barang dagangan. Beliau sendiri tidak secara tegas menyatakan adanya kewajiban zakat barang perdagangan. Bahkan ada yang menyimpulkan bahwa Imam Syafi‘i cenderung tidak mewajibkan zakat atas barang perdagangan di dalam qawl qadim-nya. Sedang dalam qawl jadid, beliau menyatakan secara tegas bahwa barang dagangan wajib dizakati. Imam Malik menyatakan barang dagangan baru dikenakan zakat kalau sudah dijual, sudah bertukar menjadi uang.

Wisata Sejarah Aceh

Oleh: Azhar A Gani
Mahasiswa Program Doktor Manajemen Pariwisata-Universiti Utara Malaysia.

SATU lagi destinasi wisata warisan sejarah diresmikan pemerintah (Jumat, 09/12/2011). Destinasi tersebut diberi nama Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara. Berlokasi di Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh dan berjarak sekitar 180 km arah timur Ibukota Provinsi Aceh. Peresmian kawasan tersebut berkaitan dengan sejarah antara Indonesia dan Malaysia. Sosok itu bernama Tun Sri Lanang. Menurut sebuah kisah, sebelum memimpin Negeri Samalanga, Bireuen tahun 1615-1659, Tun Sri merupakan bendahara atau Perdana Menteri Kerajaan Johor. Namun, setelah Aceh menaklukkan Batu Sawar, Ibu kota Kerajaan Johor tahun 1613, Sultan Iskandar Muda memboyong Tun Sri ke daerah itu, kemudian diangkat sebagai penguasa pertama Samalanga (Kompas, 09/12/2011).

Kaderisasi Koruptor

Oleh: Mashudi SR
Aktivis Pemuda Muhammadiyah Aceh.

PUSAT Pelaporan Analisis dan Transaksi Kekuangan (PPATK) belum lama ini melansir laporannya seputar transaksi mencurigakan milik Pegawai Negeri Sipil (PNS) berusia muda dan bergolongan rendah. Sebanyak 50% PNS muda itu memiliki uang dalam jumlah yang mencengangkan. Laporan itu juga sepuluh orang PNS muda golongan III, yang memiliki rekening transaksi mencurigakan karena didapati aliran uang sampai milirian rupiah. Diduga kuat, uang yang tidak sebanding dengan pendapatan resmi perbulan yang mereka terima itu, berasal dari hasil korupsi.

Temuan PPATK terkait dengan rekening mencurigakan milik abdi negara ini bukan peristiwa pertama. Sebelumnya seorang PNS golonggan yang sama Gayus Halomoan P Tambunan, berhasil mencuri perhatian masyarakat luas. Lelaki berbadan subur dan bekerja di Kantor Pajak ini, berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah yang sangat pantastis, puluhan miliar rupiah.

Belajar dari Kenduri

Oleh: Teuku Azhar Ibrahim
Alumnus Filsafat Univ. Al Azhar Cairo. Pengarang Novel.

DALAM banyak sisi kehidupan hal-hal penting dilupakan karena dianggap kecil namun sesungguhnya kelupaan itu berakibat besar. Lupa itu sendiri kebiasaan buruk dan dituduh sebagai perbuatan setan. Jenis kelupaan sering terjadi di tempat kenduri atau hajatan, kebetulan pula negeri ini kaya kenduri. Orang lahir ada  kenduri, sunat juga kenduri, pesta perkawinan memang selayaknya  kenduri dan orang mati pun di beberapa tempat punya jadwal kenduri lebih banyak dibanding kenduri lain.

Sebagian tamu, entah kurang pengetahuan atau memang punya kebiasaan buruk, makanan dipenuhi piring dengan bermacam menu, terus  setengahnya tidak habis dimakan. Kebiasaan pula, menu yang sudah masuk ke satu piring tidak akan masuk ke piring lain, selanjutnya jadi sampah. Dalam skala satu piring adalah masalah kecil tapi kalau jumlahnya ribuan piring akan menjadi hal besar. Tidak mungkin tuan rumah buat pengumuman “kepada segenap undangan mohon ambil hidangan secukupnya dan jangan sisakan dalam piring.” Karena itu dianggap masalah kecil dan sudah menjadi pengetahuan umum serta sudah maklum sejak kecil.

Menakar Nilai Politik PA

Oleh: Risman A Rachman
Pemerhati sosial-politik Aceh.

BERAPA nilai yang layak diberikan kepada sikap politik yang sedang dijalankan oleh Partai Aceh (PA) yang kini dinakhodai oleh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa dengan Mualem?

Sebagaimana diketahui, PA mengambil sikap tidak ambil bagian dalam hiruk pikuk politik Pilkada Aceh saat ini, yang dinilainya bergerak tanpa menghormati etik dan spirit kesepakatan damai antara Aceh dan Indonesia. Menurut PA, inti persoalannya bukan soal boleh atau tidak boleh calon independen terlibat dalam ajang Pilkada Aceh. Tapi, boleh atau tidak boleh itu mestilah diproses dengan melibatkan lembaga perwakilan rakyat, DPRA.

Transmigrasi Indonesia 61 Tahun

Oleh: Nurdin F Joes
PNS, kini bekerja di Kantor Gubernur Aceh.

HARI ini 12 Desember 2011. Transmigrasi di Indonesia genap mencatatkan usianya yang ke-61. Di seluruh negeri Republik Merah-Putih ini, insan transmigrasi baik itu warga transmigran yang tersebar di berbagai desa dalam wilayah unit permukiman transmigrasi (UPT), para pegawai di jajaran Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, maupun dinas dinas yang mengelola ketransmigrasian di daerah, merenungkan hari bersejarah transmigrasi. Umumnya, renungan dan rasa syukur ini dibalut dalam sebuah upacara bendera memperingati hari bakti transmigrasi (HBT) yang sudah berusia lebih setengah abad.

Dari sejarah yang ada, transmigrasi di Indonesia dimulai saat Pemerintah RI secara terkoordinasi memberangkatkan atau memindahkan 23 KK (77 jiwa) warga masyarakat Sukadana Kecamatan Begelen Jawa Tengah menuju Gedong Tataan Kerisidenan Lampung di utara Kota Tanjungkarang, Sumatra.